
Mampet Akibat Proyek Pompa Air, Warga Rangkah Tambaksari Khawatir Serangan Nyamuk dan Sampah Membusuk
SURABAYA – Pelaksanaan proyek pembangunan pompa air di kawasan samping Makam Pahlawan WR Soepratman menuai protes keras dari warga RW 08 Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Pengerjaan fisik proyek tersebut diduga kuat menjadi biang kerok tersumbatnya aliran sungai, hingga memicu genangan air, penumpukan sampah, serta lonjakan populasi nyamuk di pemukiman sekitar.
Berdasarkan informasi di lapangan, penyumbatan terjadi akibat penutupan total aliran sungai yang dilakukan pihak pelaksana proyek demi memperlancar proses pengecoran. Ironisnya, penutupan tersebut tidak dibarengi dengan penyediaan jalur pengalihan (by-pass) maupun pengoperasian pompa darurat untuk menjaga debit air tetap mengalir selama pengerjaan berlangsung.
Merespons keresahan warga yang kian memuncak, Ketua RW 08 bersama Lurah Rangkah menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pada Rabu. Dari hasil pengecekan langsung di lokasi, ditemukan bukti bahwa penutupan aliran sungai memang menjadi penyebab utama tertahannya arus air.
Ketua RW 08 Kelurahan Rangkah, Nanang Santoso, membenarkan adanya temuan teknis tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media.
”Iya benar, warga kami komplain karena banyak nyamuk dan sampah akibat air sungai tidak mengalir. Saya bersama Pak Lurah sudah melihat langsung ke lokasi proyek, ternyata benar aliran sungai ditutup untuk proses pengecoran. Namun, tidak ada pompa air untuk membantu mengalirkan air yang tertahan ke sungai sebelah agar aliran tetap lancar,” ujar Nanang.
Nanang menegaskan, pengurus lingkungan telah melayangkan teguran dan berkoordinasi dengan pelaksana proyek agar perbaikan teknis segera dilakukan. Pihaknya memberikan tenggat waktu tegas agar potensi ancaman kesehatan warga tidak diabaikan begitu saja.
”Kalau sampai hari ini tidak ada tindak lanjut terkait air yang tidak mengalir, warga akan datang ke Rumah Aspirasi untuk meminta kejelasan kepada Wali Kota Surabaya, dan saya siap mendampingi warga dalam penyampaian aspirasi tersebut,” tegasnya.
Warga mendesak kontraktor pelaksana untuk segera memasang pompa pengalihan atau menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pengerjaan yang benar. Langkah penanganan cepat dinilai sangat krusial guna mencegah bahaya penularan penyakit akibat sarang nyamuk DBD serta menjaga kebersihan sanitasi lingkungan.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek yang diketahui bernama Bayu memilih bungkam. Saat berusaha dikonfirmasi oleh awak media terkait tindak lanjut keluhan warga dan ketiadaan pompa darurat tersebut, yang bersangkutan enggan memberikan tanggapan hingga berita ini ditayangkan.

Leave a Reply Cancel reply