
PROBOLINGGO , – Bagi sebagian besar petani, pupuk kini bukan sekadar sarana produksi, melainkan salah satu komponen biaya terbesar yang terus membebani usaha tani. Di sisi lain, setiap hari limbah organik dari rumah tangga, hasil panen, hingga sisa makanan masih berakhir di tempat pembuangan tanpa memberikan nilai tambah. Dua persoalan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri itu kini dipertemukan dalam satu solusi oleh tim dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur.
Melalui inovasi hasil riset yang diimplementasikan di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, UPN “Veteran” Jawa Timur mengembangkan teknologi pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah buah lokal, khususnya limbah pisang, yang dipadukan dengan pemanfaatan limbah organik sisa Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pendekatan tersebut tidak hanya menawarkan alternatif pupuk yang lebih murah bagi petani, tetapi juga memperkuat pengelolaan limbah organik sebagai bagian dari dukungan terhadap program strategis nasional di bidang ketahanan pangan, ekonomi sirkular, dan pembangunan berkelanjutan.
Bagi UPN “Veteran” Jawa Timur, riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah di laboratorium. Hasil penelitian harus hadir sebagai solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Gagasan itulah yang menjadi dasar pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Implementasi Riset yang dipimpin Dr. Ir. Maroeto, M.P. bersama Prof. Dr. Ir. Rossyda Priyadarshini, M.P., Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M.. Seluruh inovasi yang diterapkan merupakan hasil pengembangan riset mengenai pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk yang selama beberapa tahun terus disempurnakan hingga siap diimplementasikan kepada masyarakat.
Menurut Ketua Tim PKM Dr. Ir. Maroeto, M.P., Indonesia memiliki potensi sumber bahan baku pupuk organik yang sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah buah, sisa hasil panen, hingga limbah organik dari kegiatan penyediaan makanan bergizi sesungguhnya masih mengandung unsur hara yang dapat dikembalikan ke tanah melalui proses fermentasi sederhana.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar kemampuan membuat pupuk, tetapi membangun cara pandang baru bahwa limbah organik merupakan sumber daya. Ketika masyarakat mampu mengolahnya sendiri, biaya produksi pertanian dapat ditekan, lingkungan menjadi lebih bersih, dan desa memiliki peluang membangun kemandirian dalam penyediaan pupuk,” ujarnya.
Pemanfaatan limbah organik sisa Program Makan Bergizi Gratis juga menjadi bagian penting dalam inovasi tersebut. Menurut Maroeto, apabila dikelola dengan baik, limbah organik yang dihasilkan dari program tersebut tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Sebaliknya, limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Dengan demikian, ekosistem Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menghasilkan manfaat dari sisi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong lahirnya sistem pengelolaan limbah yang produktif dan berkelanjutan.
Konsep tersebut kemudian diperkenalkan kepada masyarakat Desa Sumberkare melalui pelatihan yang mengedepankan praktik langsung. Para petani, kader PKK, dan warga tidak hanya menerima materi mengenai manfaat pupuk organik, tetapi juga mempraktikkan seluruh tahapan produksi mulai dari pemilahan bahan baku, pencacahan limbah pisang, pencampuran bioaktivator, proses fermentasi, penyaringan hasil pupuk, hingga teknik aplikasi di lahan pertanian. Residu padat hasil fermentasi pun dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik padat sehingga hampir seluruh limbah dapat dimanfaatkan tanpa menyisakan sampah baru. Setelah pelatihan, tim dosen akan terus melakukan pendampingan agar masyarakat mampu memproduksi pupuk secara mandiri dan menjadikan teknologi tersebut sebagai bagian dari aktivitas pertanian sehari-hari.
Pelaksanaan program mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Camat Wonomerto Rasyidhi, S.Sos., M.M., Sekretaris Kecamatan Wonomerto Iswahyudi, S.Sos., M.Si., Kepala Desa Sumberkare Sutrisno, Ketua TP PKK Kecamatan Wonomerto Uliuk Sugiarti, Ketua TP PKK Desa Sumberkare Pujiati, Koordinator Keluarga Berencana Kecamatan Wonomerto Dra. Wiwin Iswinarni, M.M., Asisten Lapangan Badan Gizi Nasional Desa Sumberkare Abd Rochim, S.Kom., Kaur Keuangan Desa Sumberkare Moh. Hafidul Kamil, Ketua HIPPA Tasan, serta perangkat desa dan masyarakat hadir untuk menyaksikan sekaligus mendukung implementasi inovasi tersebut.
Komitmen agar program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Ketua Tim PKM dan Pemerintah Desa Sumberkare. Melalui penyerahan tersebut, desa menerima tiga unit tumbler pupuk berkapasitas 200 liter, bakteri Streptomyces, serta paket Teknologi Tepat Guna (TTG) pembuatan pupuk organik sebagai modal awal pengembangan produksi pupuk organik secara mandiri oleh masyarakat.
Bagi UPN “Veteran” Jawa Timur, keberhasilan program ini tidak diukur dari banyaknya peserta pelatihan, melainkan dari sejauh mana teknologi hasil riset dapat terus dimanfaatkan setelah tim pengabdian kembali ke kampus. Ketika masyarakat mampu memproduksi pupuk sendiri, limbah organik tidak lagi menjadi beban lingkungan, biaya produksi pertanian menurun, dan desa memiliki sistem pengelolaan sumber daya yang lebih mandiri, maka riset telah benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Model kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, Badan Gizi Nasional, kelompok tani, dan masyarakat inilah yang diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus dukungan nyata terhadap program-program strategis pemerintah.

Leave a Reply Cancel reply