Advokat Abdus Salim, S.H., M.H., Soroti Inkonsistensi Penilaian Cerdas Cermat MPR

Jakarta, Lomba cerdas cermat yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia semestinya lebih dari sekadar adu cepat menjawab soal. Ajang ini adalah ruang pembentukan karakter generasi muda melalui nilai moral, sportivitas, kejujuran, dan keterbukaan. Karena itu, setiap proses penilaian wajib objektif, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Namun harapan itu ternoda jika di lapangan muncul perlakuan berbeda terhadap jawaban yang sama, tanpa penjelasan yang jelas dan terbuka.

Advokat Abdus Salim, S.H., M.H., menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, ketika jawaban serupa dinilai berbeda tanpa alasan yang diartikulasikan secara terbuka, publik berhak bertanya.

“Sangat disayangkan apabila dalam pelaksanaannya muncul penilaian berbeda terhadap jawaban yang sama tanpa penjelasan yang jelas dan terbuka, malah menyalahkan dengan artikulasi supaya lebih diperjelas,” ujarnya. Minggu (17/5/2026).

Bagi Abdus Salim, persoalan ini bukan sekadar soal angka dan peringkat. Lebih dari itu, inkonsistensi penilaian mencederai semangat keadilan dan merusak pesan moral yang seharusnya menjadi fondasi utama kegiatan pendidikan.

“Generasi muda perlu diajarkan bahwa kejujuran dan kemampuan adalah jalan utama meraih prestasi, bukan ketidakjelasan penilaian ataupun subjektivitas,” tegasnya.

Ia mengingatkan, jika sebuah lomba edukatif justru menampilkan perlakuan yang tidak konsisten, dampaknya bisa panjang. Rasa kecewa muncul, kepercayaan publik runtuh, dan yang paling berbahaya adalah munculnya contoh buruk bagi pendidikan karakter anak bangsa.

Sebagai lembaga negara yang mengusung nilai kebangsaan dan pendidikan demokrasi, MPR RI seharusnya menjadi teladan. Prinsip sportivitas, keterbukaan, dan integritas harus dijunjung tinggi, bukan hanya dalam pidato, tetapi juga dalam praktik penyelenggaraan acara.

“Evaluasi yang jujur dan transparan menjadi penting agar marwah perlombaan tetap terjaga dan tujuan pendidikan moral dalam kegiatan tersebut tidak kehilangan makna,” kata Abdus Salim.

Di tengah upaya membangun budaya demokrasi yang sehat, transparansi kecil seperti penjelasan penilaian bisa jadi langkah besar. Sebab dari situlah generasi muda belajar bahwa negara hadir dengan adil, bukan dengan standar ganda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*