Pasar Turi, Legenda Perdagangan Surabaya

Surabaya,– Pasar Turi dikenal sebagai salah satu pasar tertua dan paling berpengaruh di Kota Surabaya. Hingga kini, pasar yang sarat sejarah ini masih berdiri sebagai ikon perdagangan di Kota Pahlawan. Meski telah mengalami pasang surut, Pasar Turi tetap menjadi bagian penting dari denyut ekonomi rakyat Surabaya.

Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan dari Surabaya Historical Community (SHC), menjelaskan bahwa keberadaan Pasar Turi diduga sudah ada sejak masa kekeratonan Surabaya pada abad ke-17 hingga ke-18 Masehi.

“Pasar ini dulu berada di sisi barat keraton Surabaya, posisinya sangat strategis karena dekat dengan Masjid Suropringgo dan mudah dijangkau oleh penduduk,” ujarnya, Rabu (21/01/2026).

Menurutnya, pada masa kolonial Belanda, Pasar Turi mulai mengalami penataan besar-besaran. Dari pasar satu lantai yang sederhana, kemudian dibangun lebih tertata dengan bedak-bedak pedagang yang rapi.

“Waktu itu sudah ada atap panjang yang membuat pengunjung tidak kehujanan atau kepanasan. Bisa dibilang, bentuknya sudah modern untuk ukuran pasar tradisional,” tambah Nur.

Pasar Turi juga memiliki nilai historis pada masa awal kemerdekaan. Tepat di dekat pasar ini terdapat sebuah lapangan yang menjadi tempat berkumpulnya ribuan warga Surabaya pada September 1945. Mereka menegaskan semangat mempertahankan kedaulatan Indonesia dari bangsa asing, meski aksi tersebut tidak sepenuhnya berhasil.

Memasuki era 1970-an, Pasar Turi dipugar dan dibangun menjadi pasar bertingkat dengan ribuan pedagang. Pada masa itu, pasar ini mencapai puncak kejayaannya. Para pedagang dari luar Pulau Jawa datang membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali. “Dulu Pasar Turi jadi pusat grosir terbesar di Indonesia Timur,” ungkap Nur Setiawan.

Namun, masa kejayaan itu tidak bertahan lama. Pasar Turi beberapa kali dilanda kebakaran hebat hingga mengalami kerugian miliaran rupiah. Setelah lama terbengkalai, kini Pasar Turi telah dibangun kembali dengan wajah baru yang lebih modern.

“Sayangnya, suasana pasar sekarang tidak seramai dulu, tapi tetap menjadi bagian penting dari sejarah perdagangan Surabaya,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*