Bangkalan, – Forum Komunikasi Mahasiswa Darussalam (FKMD) menggelar Seminar Ekologi bertajuk “Kritik Lingkungan dan Politik Label Wahabisme: Dampaknya pada Kesadaran Ekologis Umat” di Aula Kampus STAIDA, Minggu (28/12/2025).
Kegiatan ini menjadi wadah refleksi dan dialog kritis mahasiswa terhadap isu lingkungan dan dinamika wacana keagamaan di era modern.Hadir sebagai pemateri utama, Roy Murtadho, pendiri Pesantren Miskatul Anwar Bogor, Jawa Barat, mengupas hubungan erat antara krisis ekologis, spiritualitas, dan politik identitas yang berkembang di tengah masyarakat.Roy menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memaknai dirinya sendiri serta posisinya di alam semesta.
“Manusia kini kerap bertindak layaknya makhluk paling rakus yang merusak habitatnya sendiri. Ketika etika dan spiritualitas hilang dari kesadaran ekologis, maka kehancuran lingkungan hanya tinggal menunggu waktu,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Ia juga menyoroti praktik pelabelan dalam diskursus keagamaan yang sering kali justru menjauhkan umat dari isu penting seperti tanggung jawab terhadap kelestarian bumi.
Menurutnya, menjaga lingkungan adalah kewajiban kolektif yang harus melampaui sekat identitas maupun golongan.Sementara itu, Mathur Husairi, aktivis asal Jawa Timur sekaligus senior FKMD, dalam sesi keynote speech-nya menekankan pentingnya membangun nalar kritis di tengah krisis ekologis global.
“Kesadaran ramah lingkungan tidak lahir dari dogma semata. Diperlukan pemahaman kritis agar umat mampu melihat bagaimana relasi kuasa dan kepentingan politik turut berperan dalam kerusakan lingkungan,” tutur Mathur.
Ia menambahkan, keberpihakan terhadap lingkungan semestinya dipahami sebagai sikap etis dan politik yang sadar, bukan sekadar slogan hijau tanpa tindakan nyata.Di sisi lain, Ainur Rofik, Ketua Pelaksana kegiatan, menegaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari langkah panjang FKMD untuk menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa.
“Kami tidak ingin berhenti di seminar ini saja. FKMD akan menindaklanjutinya melalui Madrasah Ekologi, sebagai ruang belajar berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan aksi nyata di bidang lingkungan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, FKMD berharap mahasiswa mampu menumbuhkan kepekaan terhadap isu lingkungan sekaligus mempertajam daya kritis terhadap relasi antara agama, politik, dan ekologi. ( Red )

Leave a Reply