{"id":426,"date":"2025-12-14T16:02:47","date_gmt":"2025-12-14T16:02:47","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpemburu.com\/?p=426"},"modified":"2025-12-14T16:02:47","modified_gmt":"2025-12-14T16:02:47","slug":"mengupas-sejarah-pohon-asam-warisan-leluhur-sudah-mulai-ditinggalkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/2025\/12\/14\/mengupas-sejarah-pohon-asam-warisan-leluhur-sudah-mulai-ditinggalkan\/","title":{"rendered":"Mengupas Sejarah !! Pohon Asam, Warisan Leluhur Sudah Mulai Ditinggalkan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Surabaya,- Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menyoroti mulai hilangnya tradisi penanaman pohon asam di tepi jalan yang dulunya menjadi ciri khas lengkap kota-kota di Nusantara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, tradisi tersebut sudah ada sejak era klasik atau zaman kerajaan dan memiliki nilai historis sekaligus ekologis yang tinggi. \u201cPada masa kerajaan, pohon asam ditanam di jalan-jalan utama dan tempat tertentu sebagai tetenger atau penanda wilayah, juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,\u201d ujar Nur Setiawan, Minggu (14\/12\/2025).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menjelaskan, pemilihan pohon asam atau wit asem (dalam bahasa Jawa) oleh leluhur bukan dilakukan secara sembarangan. Pohon ini dikenal memiliki usia panjang, tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, dan memberikan keteduhan yang luas. \u201cLeluhur kita sangat bijak memilih pohon asam karena selain teduh dan kuat, buahnya juga bermanfaat \u2014 bisa dijadikan bahan masakan, obat tradisional, hingga minuman penyegar,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut, Nur menambahkan bahwa karakter geografis Nusantara yang memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau untuk menjadi alasan logis mengapa pohon asam dulu begitu populer. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaat musim kemarau dengan suhu panas menyengat, pohon asam menjadi pelindung alami bagi para pelintas jalan. Begitu pula saat hujan ringan turun, orang bisa berteduh di bawahnya,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sisi struktur, akar pohon asam dikenal kuat namun tidak merusak bangunan di sekitarnya. Hal inilah yang menjadikannya sangat cocok ditanam di tepi jalan atau kawasan pemukiman. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAkar pohon asam tumbuh dalam dan menyebar stabil, bukan merusak pondasi. Karena itu, pemerintah kolonial dulu pun melanjutkan tradisi penanaman pohon ini di banyak wilayah,\u201d tutur Nur Setiawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, ia menyayangkan bahwa dalam perkembangan zaman, pohon asam kini mulai jarang ditanam. Salah satu penyebabnya adalah munculnya stigma mistik yang melekat pada pohon tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBanyak masyarakat menganggap pohon asam sebagai pohon angker atau tempat makhluk halus, padahal itu hanya mitos yang tidak berdasar,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Nur, pandangan mistik semacam itu justru menutupi makna sejati dari kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Ia menilai, menanam pohon asam merupakan bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau kita pahami nilai historis dan ekologisnya, pohon asam bukan sekadar tanaman, tapi simbol peradaban yang berpihak pada keberlanjutan hidup,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai pegiat sejarah, Nur Setiawan berharap agar pemerintah daerah bersama masyarakat dapat menghidupkan kembali tradisi menanam pohon asam di kawasan publik. \u201cIni bukan sekadar pelestarian lingkungan, tapi juga pelestarian nilai budaya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan begitu, wit asem bisa kembali menjadi saksi hidup kebijaksanaan leluhur dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam,\u201d pungkasnya. ( Red )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>Surabaya,- Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menyoroti mulai hilangnya tradisi penanaman pohon asam di tepi jalan yang dulunya menjadi ciri khas lengkap kota-kota di Nusantara. <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/2025\/12\/14\/mengupas-sejarah-pohon-asam-warisan-leluhur-sudah-mulai-ditinggalkan\/\" title=\"Mengupas Sejarah !! Pohon Asam, Warisan Leluhur Sudah Mulai Ditinggalkan\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":427,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-426","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=426"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":428,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426\/revisions\/428"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=426"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=426"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=426"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}