{"id":3115,"date":"2026-08-17T12:57:05","date_gmt":"2026-08-17T12:57:05","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpemburu.com\/?p=3115"},"modified":"2026-08-17T12:57:05","modified_gmt":"2026-08-17T12:57:05","slug":"jejak-pahlawan-menyingkap-kisah-kapten-matosin-pemimpin-kompi-maling-yang-terlupakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/2026\/08\/17\/jejak-pahlawan-menyingkap-kisah-kapten-matosin-pemimpin-kompi-maling-yang-terlupakan\/","title":{"rendered":"JEJAK PAHLAWAN: Menyingkap Kisah Kapten Matosin, Pemimpin &#8220;Kompi Maling&#8221; yang Terlupakan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bSURABAYA , &#8211; Di balik gemuruh Pertempuran 10 November 1945 yang melambungkan nama Surabaya sebagai Kota Pahlawan, tersimpan kisah-kisah keberanian luar biasa yang perlahan terkikis zaman. Salah satunya adalah kisah Kapten Infanteri Matosin, pejuang kelahiran Madura yang memimpin pasukan elit bertaruh nyawa bernama &#8220;Kompi Maling&#8221; atau Penggempur Dalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bMeski jasanya terukir di atas darah dan air mata, nama Matosin hingga kini masih terdengar asing, baik bagi warga Surabaya maupun masyarakat Madura sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bPasukan Khusus yang Ditakuti Sekutu<br>\u200bJulukan &#8220;Kompi Maling&#8221; tidak lahir dari kejahatan, melainkan dari taktik gerilya tak terduga yang membuat pasukan Sekutu dan NICA frustrasi. Di bawah kepemimpinan Matosin, unit penyusup ini bertugas menembus lini belakang musuh di tengah kecamuk perang Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bDengan keberanian di atas rata-rata dan penguasaan medan yang mumpuni, Matosin dan pasukannya merayap di kegelapan malam untuk menyabotase logistik, merampas senjata, serta melumpuhkan titik-titik vital musuh dari dalam. Aksi heroik mereka menjadi salah satu kunci ketahanan para pejuang Surabaya saat menghadapi gempuran militer modern Sekutu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bRedup dalam Lipatan Sejarah<br>\u200bLahir di tanah Madura dan berjuang mengubur ancaman penjajah di Surabaya, Matosin mengabdi hingga akhir hayatnya. Beliau wafat pada tahun 1965 dengan pangkat terakhir Kapten Infanteri dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bSayangnya, nama Kapten Matosin belum banyak diabadikan sebagai nama jalan utama atau monumen besar, membuat jejak sejarahnya redup di antara riuk-pikuk kota yang pernah ia bela.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bMenolak Lupa Jejak Sang Penggempur<br>\u200bUpaya untuk mengenalkan kembali figur Kapten Matosin menjadi krusial, bukan hanya untuk menghormati pengorbanannya, tetapi juga sebagai jembatan sejarah antara Madura dan Surabaya. Kisah &#8220;Kompi Maling&#8221; adalah bukti nyata bagaimana keberanian, kelincahan, dan cinta tanah air mampu menutupi keterbatasan persenjataan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bSudah sepantasnya masyarakat hari ini\u2014khususnya generasi muda di Surabaya dan Madura\u2014mengenal kembali sosok Kapten Matosin: sang pejuang perkasa yang pernah beroperasi di balik bayang-bayang demi kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"mh-excerpt\"><p>\u200bSURABAYA , &#8211; Di balik gemuruh Pertempuran 10 November 1945 yang melambungkan nama Surabaya sebagai Kota Pahlawan, tersimpan kisah-kisah keberanian luar biasa yang perlahan terkikis <a class=\"mh-excerpt-more\" href=\"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/2026\/08\/17\/jejak-pahlawan-menyingkap-kisah-kapten-matosin-pemimpin-kompi-maling-yang-terlupakan\/\" title=\"JEJAK PAHLAWAN: Menyingkap Kisah Kapten Matosin, Pemimpin &#8220;Kompi Maling&#8221; yang Terlupakan\">[&#8230;]<\/a><\/p>\n<\/div>","protected":false},"author":1,"featured_media":3116,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3115"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3117,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115\/revisions\/3117"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpemburu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}