Bangkalan, – Semangat persaudaraan masih mengakar kuat di Desa Petapan Keramat. Warga bersama para pemuda bahu-membahu menjaga nama baik kampung halaman. Rasa cinta dan rasa memiliki itu mereka wujudkan lewat kerja nyata: rukun, damai, dan kompak membangun desa.
Jalan Desa Berdiri dari Swadaya
Bukti paling nyata terlihat saat pembangunan jalan desa. Tanpa menunggu uluran tangan pemerintah, warga patungan tenaga dan biaya. Ada yang menyumbang semen, ada yang angkut batu, ada yang turun langsung pegang cangkul. Semua bergerak demi satu tujuan: kampung maju, akses lancar.
“Ini bukti kami cinta Petapan Keramat. Kalau bukan kita yang bangun, siapa lagi,” ucap salah satu pemuda yang ikut kerja bakti. Minggu (24/5).
Selamatan Rutin, Wujud Syukur Bersama
Tak hanya urusan infrastruktur, tradisi selamatan juga dijaga. Warga rutin gelar doa bersama sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Harapannya satu: desa diberkahi, aman, tentram, dan sejahtera. Dari yang tua sampai muda, semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi di acara itu.
Haul Buju Daud, Bukti Cinta Leluhur
Kekompakan itu makin terasa saat para pemuda menggagas Haul Buju Daud. Acara digelar murni swadaya masyarakat. Melihat antusiasme dan keikhlasan warga, banyak pihak terharu.
“Jarang sekali ada kampung yang ikatan persaudaraannya seerat ini. Rela korban waktu, tenaga, dan harta demi kepentingan bersama. Gotong royong di sini bukan slogan, tapi napas hidup,” tutur seorang awak media yang hadir.
Haul Akbar Jadi Agenda Tahunan
Agar tradisi dan silaturahmi terus terjaga, Haul Akbar kini ditetapkan jadi agenda tahunan desa. Momen ini bukan sekadar kumpul-kumpul. Warga berdoa bersama, mengenang jasa leluhur, sekaligus memperkuat persatuan.
Haul Akbar diharapkan jadi kebanggaan Petapan Keramat. Sekaligus bukti bahwa nilai luhur gotong royong tak lekang zaman. Di tengah arus individualisme, desa ini justru menunjukkan bahwa persatuan adalah kekuatan utama.
(Amsory)

Leave a Reply